Via Detik.com
Pembicaraan terkait calon Ketua Umum PDIP pengganti Megawati Soekarnoputri semakin memanas di tubuh PDIP. Dua nama yang santer diisukan, yakni Puan Maharani dan Prananda Prabowo, pun disebut berpotensi menimbulkan faksionalisme di lingkup internal partai.
Bahkan konflik keluarga berpotensi mengintai soliditas PDIP ke depannya terkait dua nama sejauh ini. Pakar politik Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, mengungkap, jika potensi tersebut tidak diantisipasi, soliditas PDIP bisa terdampak.
“Hal ini menunjukkan besarnya potensi faksionalisme dan konflik keluarga di dalam kekuatan inti PDIP. Jika tidak diantisipasi, faksionalisme antara kekuatan Puan dan Prananda bisa mengintai soliditas PDIP ke depan,” kata Ahmad Khoirul Umam, saat dihubungi, Senin (12/4/2021).
“Terkait dengan itu, memang sudah saatnya PDIP melakukan regenerasi kepemimpinan. Megawati yang menjadi patron politik partai ini harus bisa menjembatani proses transisi ini menjadi lebih stabil dan tidak berimbas pada menguatnya faksionalisme dan konflik di internal keluarga trah Sukarno,” ucapnya.
Megawati sebagai sosok ibu dari Puan dan Prananda pun dinilai krusial menjamin stabilitas di lingkup internal PDIP. Namun Umam mengingatkan proses peredaman itu terancam jika satu di antara keduanya memiliki ego yang tinggi.
“Sebagai ibu bagi kedua kakak beradik itu, sekaligus patron politik PDIP, arah kebijakan Megawati tentunya akan diarahkan untuk menjamin stabilitas politik di internal partainya. Namun perlu diingat, proses peredaman itu belum tentu berhasil jika ada salah satu pihak yang tercongkel egonya. Pertentangan antar-ego inilah yang perlu diantisipasi awal dari konflik dan faksionalisme di internal PDIP,” jelasnya.
Lantas, siapakah di antara Puan dan Prananda yang paling berpotensi menggantikan Mega? Umam menilai, berdasarkan kalkulasi politik, Puan-lah yang lebih berpeluang.
“Tentu Puan Maharani memiliki potensi lebih besar memenangkan kompetisi, karena Puan sudah lama dan intensif tampil sebagai simbol dan wakil Megawati, di saat Prananda yang selama ini cenderung menghindar tampil di hadapan publik,” ujarnya.
Lebih jauh, Umam menyebut Puan memiliki basis jaringan dan akar politik yang lebih kuat di level pengurus daerah. Terlebih sosok Puan yang kerap menjadi pejabat publik, seperti Menko PMK periode 2014-2019 dan sekarang Ketua DPR RI.
“Implikasinya, Puan memiliki basis jaringan dan akar politik yang lebih kuat di level pengurus PDIP di daerah dibanding Prananda. Dalam masa transisi kepemimpinan, PDIP akan membutuhkan pemimpin muda yang memiliki otot politik yang lebih kuat. Sebab, masa-masa transisi ini akan terus dibayangi oleh manuver para makelar kekuasaan yang gemar mencari target-target untuk diterkam, guna mengambil alih secara paksa infrastruktur politik yang telah mapan,” tutur Umam.
Original article is published in Detik.com with the same title.
—
[JDP]
Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic), Ahmad Khoirul Umam menanggapi mundurnya Airlangga…
Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam menilai kontrol pemerintahan (checks and balances) akan…
Ahmad Khoirul Umam, Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (INDOSTRATEGIC) menilai, pasca penetapan…
Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam berpandangan, Presiden Joko…
Direktur Eksekutif Indostrategic, Ahmad Khoirul Umam merespons pertemuan Presiden Jokowi dan Ketua Umum Partai Demokrat…
Pada IPO edisi Oktober 2023 ini, kami membahas mengenai polemik dan dinamika politik pasca putusan…